Senyuman Wanita

Posted: September 7, 2007 in ocehan hati

    Teteh, biasa aku memanggil namanya. Seorang wanita dengan postur tubuh tidak terlalu tinggi, tidak kurus, dan salah satu yang kami suka darinya, dia selalu tersenyum manis diwajahnya jika kami menginjakan kaki disebuah rumah yang bisa menentramkan hati kami semua dan wajahnya pun selalu terlihat bersinar, meski beban yang ditanggungnya sangat berat.Usianya berbeda beberapa tahun lebih tua denganku. Aku selalu “curhat” dengannya ketika kami berbicara mengenai kehidupan, teman, agama, dan lain–lain. Aku mengenal dia dari seorang teman ,Meski baru mengenalnya namun kebaikannya langsung menyentuh hati., oleh karena itu aku ingin lebih jauh mengenal sosoknya sejatinya.. Alhamdulillah Allah selalu mempertemukan kami dan hingga sekarang ia menjadi salah satu kakakku yang sering aku singgahi rumahnya jika aku ingin mendaki Gunung di daerahku, gunung yang sering terlihat di pagi dan sore hari dari desaku. Hampir setiap minggu kami mendaki gunung tersebut dan bertemu dengannya serta selalu bercanda dengannya.

Suatu ketika, dia merintih kesakitan, aku bertanya mengapa terjadi demikian… spontan aku tercengang dikala dia mengatakan bahwa dia menghidap penyakit kista!!

Akhirnya aku beranikan diri untuk menanyakan tentang penyakit kista kepadanya. Aku yakin penyakit kista ini hampir ada pada setiap wanita. Jujur aku tidak bermaksud apa-apa tentang pertanyaanku, selain ingin mengetahui keadaannya sekarang…

”Ya, Teteh telah menghidap penyakit ini selama menikah dengan Kaka.

”berarti sudah puluhan tahun donk?, tanyaku..”ya begitulah”, Teteh  menjawab sambil tersenyum.

Subhanallah! Wanita itu benar-benar tegar menghadapi semuanya. Ia merasa tak ada beban ketika ia mengatakan bahwa ia mempunyai penyakit ini selama 13 tahun.

“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah [2] : 286).

Aku yakin, ia mempunyai dasar keimanan kuat dan mempunyai pemahaman Islam yang baik. Dari cerita keluarganya tentangnya , dia selalu menyembunyikan rasa sakit dan kesedihannya, seolah- olah ia ingin menanggung semuanya sendiri..

Beberapa minggu kemudian, seperti biasa kami ingin mendaki gunung dan khususnya aku yang ingin mengetahui perkembangan penyakitnya
“Teh gimana kabarnya ?, Tanyaku. ”Allhamdulillah sehat !”, ia menjawab dengan senyuman khasnya..Namun saat kulihat matanya, terlihat jelas ia menyembunyikan sesuatu dari kami semua.. namun aku sengaja tidak ingin memperpanjangnya, karena takut ia teringat akan penyakitnya yang dapat membuat ia bersedih.

Perjalanan mendaki kami dilanjutkan, meski didalam hati ini timbul pertanyaan akan keadaan ia yang sesungguhnya.
Tak terasa pagi menjelang, secepatnya aku ingin sampai di Desa  tempat ia mendirikan ruamah untuk keluarganya.

“Bagaimana Rie ?”, ”Dingin yah ?”, Tanya Teteh. ”lumayan ”, jawabku singkat.

Kami semua terlihat lelah, dan segera menaiki tangga untuk beristirahat, ditempat biasa yang telah ia sediakan jika kami mengunjungi rumahnya..

Begitu asyiknya temanku menikmati secangkir teh manis yang telah tersedia, namun mataku tertuju pada Teteh yang sedang menyiapkan makanan untuk kami. Bergegas aku menghampirinya. :”Teh masak apa?” tanyaku..”Cuma nasi, goreng ikan, tempe, sambal ,” jawabnya.

Setelah bercerita tentang yang lain, tiba- tiba, terdengar suaranya mulai meredup, ia mulai bercerita tentang penyakitnya, ia juga bercerita bahwa kemarin ia sempat kerumah sakit untuk memeriksa penyakitnya.
“Deg.” Hatiku tersentak, setelah mendengar bahwa ia harus dioperasi dalam waktu dekat untuk mengangkat penyakit kistanya. Sekujur tubuhku lemas mendengarnya, terlebih mendengar jumlah biaya yang dibutuhkan begitu besar..”Mengapa ? terjadi kepadanya? Bukankah ia manusia yang kebaikan ?”, pertayaan itu memenuhi pikiranku. Seketika ia mengucurkan airmatanya di depanku, namun dengan sigapnya ia menghapus dengan tangannya yang masih memegang sebuah gelas..

“Apa yang terjadi dengannya ya? Sebegitu beratnya ia menghadapi cobaan hidup, namun tak secuilpun ia ingin di kasihani oleh orang lain.. masalah biaya ? atau?”, aku hanya menebak dalam hati saja. Biarlah nanti setelah keadaan mendukung, aku berbicara lagi dengannya face to face aku akan bertanya langsung. Karena temanku sudah memanggil kami untuk makan bersama.

“Teh, terus bagaimana bagaimana perkembangannya?”Tanyaku, sambil aku tatap matanya.Karena dengan menatap matanya secara langsung, orang yang kita ajak berbicara, kita akan dapat membaca pesan yang tersirat dari lawan berbicara kita.

Teh Nur menjawab tanpa menatapku sambil menujuk perutnya sebelah kanan. “Ya, katanya ada tumor,” kata ia sambil tersenyum.

”Ya Allah…mengapa hasil dokter menganalisa penyakitnya selalu berbeda – beda?” . Bayangkan saja, baru 2 minggu yang lalu dia diperiksa, katanya penyakit kista sedangkan 2 bulan yang lalu maag akut, namun mengapa sekarang dia harus “berperang” dengan tumor yang ada di tubuhnya.

Aku merasa lemas setelah mendengar cerita ini. Selintas pikiranku berkelana, aku teringat para pengidap penyakit yang sudah akut , yamg harus berjuang melawan ganasnya penyakit dengan sisa harapan hidup yang mereka miliki.
“Oh… Teteh .” meski ia tidak terlihat muda, mungkin sekitar 28 tahun umurnya. Aku hanya bisa merenung, jika apa yang terjadi dalam diri Teteh itu terjadi denganku atau keluargaku. Belum tentu aku merasa tegar, kuat, sepertinya. Aku yakin, hanya senyumanya yang akan mengurangi beban-beban yang t ada tersimpan di dalam dirinya.

Teruntuk  seorang Teteh yang sering aku repotkan jika aku ingin mendaki gunung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s