Badak Jawa Ujung Kulon

Posted: September 4, 2007 in berita seputarku

LABUAN – Balai Taman Nasional Ujung Kulon (BTNUK) meyakini bahwa jumlah populasi Badak Jawa (rhinoceros sondaicus) 59 – 69 ekor dengan angka tengah 64 ekor.

Di antara 64 ekor badak tersebut, satu ekor diidentifikasi anak dengan ukuran 16/15 cm. Hal ini diungkapkan Kepala BTNUK Puja Utama, Senin (3/9), pada konfrensi pers tentang hasil sensus Badak Jawa tahun 2007 yang dilaksanakan pada 5 – 14 Juli 2007.

Dengan demikian, dari 9 kali sensus yang dimulai tahun 1996, terdapat tren kenaikan populasi Badak Jawa. Meski, populasinya belum mencapai titik aman, yakni 100 ekor. Pada 1996 populasi Badak Jawa hanya sekitar 52 ekor, 1997 sekitar 56 ekor, 1999 sekitar 50 ekor, 2001 sekitar 57 ekor, 2002 sekitar 55 ekor, 2003 sekitar 58 ekor, 2004 sekitar 50 ekor, 2005 sekitar 57 ekor, dan 2007 sekitar 64 ekor.

Menurut Puja, sensus Badak Jawa ini memakai metoda track count with method, yakni menaksir besar populasi satwa badak berdasarkan perhitungan jejak atau tapak kaki yang ditemukan di jalur contoh/transek permanen yang telah tercatat titik koordinatnya. “Di semenanjung Ujung Kulon, ada 15 transek yang memotong dari arah selatan ke utara dengan jarak antar transek 2 kilometer,” terang Puja.

Sedangkan tujuan dilakukannya sensus Badak Jawa ini, katanya, sebagai salah satu upaya pelestarian Badak Jawa di TNUK. Hal ini mengingat, TNUK telah ditetapkan sebagai world heritage site atau warisan alam dunia oleh United Nations Education Scientific Organization (Unesco) dengan SK No. SC/Eco/5867.2.409 pada tahun 1992. “Upaya lain untuk menjaga populasi ini, kita juga melakukan pengelolaan Badak Jawa, primata, perairan, daerah penyangga, dan ekowisata,” terangnya.

Sementara Iwan Podol, dari World Wide Fund (WWF), yang baru-baru ini berhasil merekam pergerakan Badak Jawa di perairan semenanjung Ujung Kulon, dan Uus dari BTNUK, menjelaskan, banyak hal yang perlu segera dilakukan untuk menjaga kelestarian Badak Jawa. Banyaknya badak yang ditemukan di daerah selatan Ujung Kulon dimungkinkan karena, ketersedian pakan di daerah ini lebih banyak. Selain itu, daerah selatan kadar garamnya lebih tinggi dan jarang ada aktivitas manusia.
“Meningkatnya populasi banteng di Ujung Kulon membuat pakan badak berkurang karena banteng masuk hutan dan memakan pakan badak. Ini terjadi karena rusaknya padang-padang penggembalaan yang merupakan tempat banteng mencari makan,” jelasnya. (nsa)

sumber : Radar Banten

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s